Halaman

Jumat, 10 Juni 2016

PEMASANGAN KATETER INDWELING

4.1 Pemasangan Kateter/Kondom Kateter 4.1.1 Pengertian Katerisasi urin adalah tindakan memasukkan selang karet atau plastik melalui uretra ke dalam kandung kemih. Pemasangan kateter menyebabkan urin mengalir secara kontinu pada pasien yang tidak mampu mengontrol perkemihan atau pasien yang mengalami obstruksi pada saluran kemih. Kondom kateter adalah alat drainase urin eksternal yang mudah digunakan dan aman untuk mengalirkan urin pada pasien. 4.1.2 Tujuan Kateterisasi dan Kondom Kateter 1. Menghilangkan distensi kandung kemih 2. Mendapatkan spesimen urin 3. Mengkaji jumlah residu urin, jika kandung kemih tidak mampu sepenuhnya dikosongkan Pada Kondom Kateter bertujuan : 1. Mengumpulkan urin dan mengontrol inkontinensia urin 2. Pasien dapat melakukan aktivitas fisik tanpa harus merasa malu karena adanya kebocoran urin (mengompol) 3. Mencegah iritasi pada kulit akibat inkontinensia urin 4.1.3 Indikasi 1. Pasien dengan retensi urin 2. Mengambil sampel urin untuk kultur urin 3. Mengukur residu urin 4. Memasukkan bahan kontras untuk pemeriksaan radiologi 5. Monitor produksi urin atau keseimbangan cairan 4.1.4 Kontraindikasi 1. Striktur Uretra 2. Ruptur uretra 3. Infeksi saluran kemih (ISK) 4.1.5 Ukuran Diameter Luar Kateter Satuan Ch (Cheriere) atau F/Fr (French atau buka Foley) Ukuran diameter Luar Kateter misalkan 1 Ch atau 1 F sama dengan 0,33 milimeter atau dengan kata lain 1 milimeter sama dengan 3 Ch atau 3 F. Pada orang dewasa Indonesia, biasanya dipasang kateter No. 16 atau 18. Berdasarkan bahan pembuatan, kateter ada yang terbuat dari logam, karet, atau silikon. Kateter yang sering dijumpai adalah kateter Foley, kateter yang menetap (indwelling catheter-self retaining), tidak iritatif, tersedia dalam berbagai ukuran, dan ada yang cabang tiga (three way catheter). 4.1.6 Pemasangan Kondom Kateter Selain menggunakan kateter, alternatif untuk katerisasi adalah menggunakan kondom kateter. Kondom kateter digunakan untuk pasien yang mengalami inkontenensia atau dalam status koma, yang masih mempunyai kemampuan menggosongkan kandung kemih sampai tuntas dan spontan. Pemasangan kondom kateter lebih mudah dan perawatannya dapat dilakukan setiap hari agar tidak iritasi. 1. Persiapan alat a. Bak instrumen steril berisi : 1 pasang handscoon steril, duk steril, bola kapas atau spons kasa steril, 1 buah pinset anatomis. b. Kateter sesuai ukuran dalam kemasan steril c. Kantong urin dalam kemasan d. Spuit yang berisi cairan larutan aquades untuk mengembangkan balon pada kateter indwelling e. Jeli atau pelumas f. Gunting dan plester g. Larutan pembersih antiseptik (savlon) dalam kom h. Korentang dan tempatnya i. Kantong sampah atau bengkok (nierbekken) j. Kom dengan air hangat dan sabun k. Handuk mandi 2. Prosedur Pelaksanaan Katerisasi Indwelling a. Cuci tangan b. Buka bak instrumen dan buka alat dalam kemasan ke dalam bak instrumen dengan teknik steril c. Tuangkan jeli pada kasa steril d. Pakai sarung tangan steril e. Bersihkan genetelia Pada Perempuan Bersihkan genetelia dengan kapas sublimasi menggunakan pinset dengan cara tangan non-dominan perawat membuka vulva, kemudian tangan dominan memegang pinset dan mengambil kapas sublimat. Selanjutnya bersihkan labiya mayora dari atas ke bawah. Kemudian labia minora dan klitoris dengan cara yang sama, lalu kapas yang telah terpakai dibuang dalam bengkok. Pada Laki-laki Bersihkan genetalia dengan kapas menggunakan pinset dengan cara penis dipegang dengan tangan non dominan. Penis dibersihkan dengan menggunakan kapas sublimat oleh tangan dominan dengan gerakan memutar dari meatus ke arah luar. Tindakan dapat dilakukan beberapa kali hingga bersih. Letakkan pinset dalam bengkok. f. Pasang duk steril g. Sambungkan kateter dengan kantong urin h. Olesi kateter dengan jeli, pada laki-laki ± 12,5-17,5 cm, dan pada perempuan 5-7,5 cm i. Masukkan kateter ke dalam uretra secara perlahan-lahan sampai urin keluar dan tambahkan kurang lebih 3 cm j. Masukkan cairan NaCl/aquades ± 10-30 cc sesuai ukuran atau sesuai ukuran yang tertulis untuk mengunci balon kateter. Tarik sedikit kateter. Apabila pada saat ditarik kateter terasa tertahan, berarti kateter sudah masuk pada kandung kemih. k. Lepaskan duk steril l. Cara fiksasi 1) Pada laki-laki : plester kateter ke arah abdomen bawah 2) Pada perempuan : plester kateter ke arah paha atas m. Bereskan alat dan bantu pasien ke posisi nyaman n. Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar